Minggu, 21 Oktober 2012

Era Modern Pendidikan Aceh (Refleksi 49 Tahun IAIN Ar-Raniry)


Senin, 22 Oktober 2012 09:09 WIB



Oleh Muhibuddin Hanafiah

MESKIPUN akhir-akhir ini mulai ada pihak yang mulai menggugat “sebutan kehormatan” terhadap Kampus IAIN Ar-Raniry, Unsyiah dan STIK/STAI Pante Kulu sebagai Jantoeng Hate Rakyat Aceh, namun kelihatannya gugatan itu bukan bermaksud untuk mengurangi nilai sejarah perkampungan keilmuan modern tertua di Aceh ini. Justru gugatan itu, paling tidak menurut hemat saya, bermaksud menggugah kembali spirit Darussalam yang kini mulai nampak menurun drastis atau mulai kehilangan arah dan cita-cita awal pendirian gampong Darussalam sebagai pusat peradaban Aceh (center for Aceh civilization). 

Memang harus diakui wajah Kopelma Darussalam tempoe doeloe sewaktu ia baru bisa merangkak dengan era modern sekarang sudah jauh berbeda dan berubah. Tentu perubahan fisik pada wajah Kopelma Darussalam yang kian maju dan modern tidak perlu kita gugat. Karena ini sesuatu yang serta merta mengalir bersama dengan kemajuan zaman. Namun keluhuran cita-cita dan api semangat untuk membangun Aceh yang lebih baik melalui pengembangan mental, moral dan ilmu pengetahuan masyarakat Aceh inilah yang mesti dikawal terus-menerus. Tulisan ini coba merefkesikan kembali perjalanan panjang IAIN Ar-Raniry yang akan merayakan milad ke-49 pada Senin, 21 Oktober 2012, hari ini, dengan agenda Rapat Senat Terbuka, Orasi Ilmiah, Peluncuran Buku dan lain-lain.

 Simbol historis
IAIN Ar-Raniry berlokasi di Kopelma Darussalam dan satu kampus dengan Unsyiah dengan Tugu Darussalam sebagai simbol historis yang masih berdiri megah. Kopelma Darussalam merupakan perwujudan dari Jantoeng Hate Rakyat Aceh, yang berpusat di gampong Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh. Lapangan Tugu ini merupakan simbol yang mengikat tiga obyek pendidikan yaitu pendidikan umum (Universitas Syiah kuala), pendidikan agama (IAIN-Ar Raniry), dan pendidikan Pesantren (Dayah Pante Kulu) yang kini sudah berubah menjadi Yayasan Pante Kulu dengan dua perguruan tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (STIK) dan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dengan beberapa fakultas keagamaan. 

Kampus Darussalam merupakan wujud dari keinginan rakyat Aceh untuk memiliki sebuah lembaga pendidikan tinggi negeri, sebagaimana yang pernah ada dan berkembang pada masa silam. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh telah menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang terkenal. Para mahasiswa dan staf pengajar berasal dari berbagai penjuru dunia, seperti Kesultanan Turki, Iran, dan India. Syiah Kuala, yang namanya ditabalkan pada perguruan tinggi negeri di Serambi Mekkah ini, adalah seorang ulama Nusantara terkemuka yang bernama Tengku Abdur Rauf al-Singkili di abad XVI, yang terkenal baik di bidang Ilmu Hukum maupun Keagamaan.

Berbeda dengan Unsyiah yang lahir diawali dengan Fakultas Ekonomi pada 2 September 1959, lahirnya IAIN Ar-Raniry didahului dengan berdirinya Fakultas Syariah (Hukum Islam) pada 1960 dan Fakultas Tarbiyah pada 1962 sebagai cabang dari IAIN Sunan Kalidjaga Yogyakarta. Pada tahun yang sama (1962), didirikan pula Fakultas Ushuluddin sebagai Fakultas swasta di Banda Aceh. Setelah beberapa tahun menjadi cabang dari IAIN Yogyakarta, fakultas-fakultas tersebut berinduk ke IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta selama enam bulan sampai IAIN Ar-Raniry diresmikan dengan SK Menteri Agama RI Nomor 89 Tahun 1963 Tanggal 5 Oktober 1963.

Sebagai IAIN ketiga di Indonesia setelah IAIN Sunan Kalidjaga Yogyakarta dan IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Ar-Raniry terus melangkah maju dan berkembang. Hal ini terlihat, ketika IAIN Ar-Raniry diresmikan (5 Oktober 1963) baru memiliki tiga fakultas, yaitu Fakultas Syariah, Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Ushuluddin, lima tahun kemudian atau tepatnya pada 1968 berdiri pula Fakultas Dakwah sebagai fakultas yang pertama di lingkungan IAIN di Indonesia. Pada tahun 1968 ini pula, IAIN Ar-Raniry ditunjuk sebagai induk dari dua fakultas agama berstatus negeri di Medan (cikal bakal IAIN Sumatera Utara) yaitu Fakultas Tarbiyah dan Syariah yang berlangsung selama lima tahun. Untuk menyamai dengan IAIN-IAIN lain, pada tahun 1983, Fakultas Adab resmi menjadi salah satu dari lima fakultas di lingkungan IAIN Ar-Raniry. Maka sejak saat itu lengkaplah sudah IAIN Ar-Raniry memiliki lima fakultas layaknya IAIN lain.  

Kata Ar-Raniry yang dinisbahkan kepada IAIN Banda Aceh ini adalah nama seorang Ulama besar dan mufti yang sangat berpengaruh pada masa Sultan Iskandar Tsani (memerintah 1637-1641). Ulama besar tersebut nama lengkapnya adalah Syeikh Nuruddin Ar-Raniry yang berasal dari Ranir (sekarang Rander) di Gujarat, India. Beliau telah memberikan kontribusi yang amat berharga dalam pengembangan pemikiran Islam di Asia Tenggara khususnya di Aceh. Dalam sejarahnya, IAIN Ar-Raniry sebagai lembaga pendidikan tinggi, telah menunjukkan peran yang signifikan dan strategis bagi pembangunan dan perkembangan masyarakat. Alumninya yang sudah merata ditemukan pada hampir seluruh instansi pemerintah dan swasta (termasuk di luar Aceh).

Sejak diresmikan pada 1963, IAIN Ar-Raniry telah dipimpin oleh 10 Rektor, yaitu: A Hasjmy (1963-1965), Drs H Ismuha (1965-1972), Ahmad Daudy MA (1972-1976), Prof A Hasjmy (1976-1982), Prof H Ibrahim Husein MA (1982-1987 dan 1987-1990), Drs H Abd Fattah (1990-1995), Prof Dr H Safwan Idris MA (1995-2000), Prof Dr H Al Yasa Abubakar MA sebagai Plh (2000-2001), Prof Dr H Rusjdi Ali Muhammad SH (2001-2005), Prof Drs H Yusny Saby MA PhD (2005-2009), dan Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim MA (Agustus 2009 - sekarang).

 Alih status ke UIN
Di usianya yang ke-49 ini, IAIN Ar-Raniry sedang berupaya untuk mengubah (beralih) status ke Universitas Islam Negeri (UIN). Upaya tersebut sedang dalam perjuangan, dan sebuah tim khusus yang dibentuk terus bekerja demi mempercepat tercapainya tujuan dimaksud. Rektor IAIN Ar-Raniry bersama dengan dua IAIN lainnya, IAIN Sumatera Utara dan IAIN Raden Fatah Palembang, telah mempresentasikan proposal usulan alih status ke UIN di hadapan tim ahli/pakar. Saat ini, Kementerian Agama telah memiliki enam UIN, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, UIN Alauddin Makassar, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan UIN Sultan Syarif Qasim Pakanbaru. 

Proses penilaian alih status ini akan dilanjutkan setelah masing-masig IAIN memperbaiki proposalnya sesuai masukan tim pakar/ahli, bersama-sama dengan 2 (dua) IAIN yang presentasi sebelumnya, yakni IAIN Sunan Ampel Surabaya dan IAIN Walisongo Semarang. Dengan demikian, Kementerian Agama akan mengawal 5 proposal alih status menuju Universitas Islam Negeri, termasuk usulan IAIN Ar-Raniry. Seluruh civitas akademika IAIN Ar-Raniry tentunya berharap agar perjuangan pengalihan status yang sedang diupayakan itu berlangsung lancar tanpa hambatan berarti. 

Tentu yang paling penting adalah harapan di atas harus dibarengi dengan kerja keras semua komponen Ar-Raniry untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, penelitian, pengabdian dan pelayanan kepada mahasiswa melalui mekanisme kerja tersistem dan professional. Administrasi dan birokrasi yang bersih dan amanah serta manajemen terbuka sejatinya juga mendapat perhatian pimpinan, sehingga karyawan dan dosen saling bahu-membahu untuk membesarkan lembaga dan almamater. Selamat milad IAIN Ar-Raniry yang ke-49, perjalanan masih panjang semoga sampai di tujuan yang dicita-citakan.

* Muhibuddin Hanafiah, Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: ibnu_hanafi70@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar